Teguh

Menatap lengang jalanan yang tak berdengung

Membentang panjang begitu jauh tanpa lengkung

Perlahan menyeret langkah dengan wajah murung

Setengah fikir pun terhanyut maya, terus termenung

Telah biasa tak berteman di remang tak berujung

Hanya dengan rajutan mega hitam aku berpayung

Mata tak mampu merekam mentari diantara mendung

Bahagia tak lebih dari puing yang tak bisa di pulung

Hampir kalah oleh sakit yang buat raga mematung

Berhenti pada kegagalan menopang pijakan terhuyung

Lalu, di sela kepayahan, Kau hadir kuatkan relung

Menjadikan gurat di pipi kembali berhias lesung

Lama sudah dalam kesepian dunia aku terpasung

Terasing dari gelak tawa, pedih yang terus meraung

Lirih dawai-Mu membisik damai di tiap denyut jantung

Akhirnya pada pusaran kematian, seluruh duka ku larung

Mulai ku pahami indah liku jalan-Mu tuk buat ku lebih ulung

Menjejaki kehidupan dengan lajur keteguhan tiada terbendung

Jika satu cinta dari sesama hamba di ambil dan kisahnya di gulung

Jadi pengingat, rasa hati pada makhluk harusnya tak menggunung

Pelan mengiring diri ini kembali pada kasih yang Maha Agung

Percaya lagi bahwa wujud Cinta-Mu lah berlebih tak terhitung

  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: